Previous Post
Archives
Links
Friends
Template by
Free Blogger templates
Saturday, May 20, 2006
1 bulan telah berlalu
Apa yang terjadi sebulan yang lalu? Berikut ini adalah apa yang aku alami, apa yang aku rasakan, dan apa yang terkenang di hatiku. Tidak diceritakan 100%, ada banyak bagian yang disensor dengan dua alasan. Rahasia pribadi dan rahasia perusahaan =)


20 April 2006

Hari itu teramat melelahkan. Seperti hari Kamis yang lain di semester 4, aku berangkat ke kampus untuk mengikuti kuliah Persamaan Differensial dan MetProg. Namun sungguh menyebalkan ketika telepon genggam bergetar dan ada telpon dari ruang BEM di jam kuliah. Siapa sih? Ternyata si penelpon adalah Samuel Pandu Amarta, yang selalu maunya dipanggil saMMy (ingat, dua huruf M besar dan diakhiri dengan Y), tapi aku memilih untuk memanggilnya Mi’un. Bla, bla, bla, aku mendiktekan daftar pengeluaran sie acara dan percakapan di telepon berakhir dengan pernyataan bahwa aku harus ke Pusgiwa secepatnya.

Sebagaimana aku telah berupaya membagi waktu di hari itu, aku tiba di Pusgiwa tepat pukul 1 dan bergegas kembali ke Fasilkom pukul 3 untuk melanjutkan tugas kelompok BasDat. Hari semakin sore, aku harus kembali ke Pusgiwa secepatnya, cek kesiapan panggung yang bakal dipakai check sound. Tapi hujan menghadang. Deras dan semakin deras. Saat itu yang kupikirkan hanyalah bagaimana caranya sampai di Pusgiwa dengan cuaca yang demikian, apalagi aku membawa laptop yang tidak mungkin diajak menerjang badai. Padahal, seharusnya aku berpikir jauh ke depan. Misalnya, kalau hujan deras seperti ini, apakah panggung akan siap tepat waktu? Apakah check sound akan berjalan dengan baik?

Sungguh beruntung malam itu aku bertemu seorang Richard yang dengan baiknya mau mengantarku ke Pusgiwa. Sekitar pukul 7 kurang aku sudah berada di aula Setyaningrum. Yah, hujan. Hujan itu terus turun. Kami tidak bisa berbuat apa2. Hanya bisa menanti dan menanti. Panggung tak kunjung jadi, padahal satu demi satu yang mau check sound sudah berdatangan. Mulai dari band2 audisi, UKM2, Balawan, Samsons, arghhh, bagaimana ini??

Malam itu aku dititipkan pesan oleh Sie Konsumsi bahwa makanan untuk Balawan jangan sampai jatuh ke tangan yang salah, dan tolong dilihat-lihat juga, jangan sampai makanan keburu basi. OK. Dan ternyata ketika Balawan datang, makanan masih dalam keadaan layak makan. Tapi, Balawan dkk kelihatannya kurang berkenan dengan makanan yang kami sediakan. Ada apa ya? Ternyata, makanan yang ada di dalam kotakan itu adalah rendang. Balawan dkk tidak makan sapi. Suka tidak suka harus mencari lauk pengganti untuk mereka. Malam2 gelap, anak2 konsumsi pun mencari ayam goreng untuk rombongan Balawan.

Waktu terus berlalu dan hujan tidak kunjung reda. Beberapa teman berbaik hati mencarikan makanan di KuTek. Sementara aku dan teman2 lainnya bersenda gurau di aula Setyaningrum. HP Mi’un bergetar, Mi’un-nya lagi tidak di tempat. Maka aku yang mengangkat. Nomornya adalah 021xxxxxxx. Halo…. Tapi tidak ada jawaban. Halo…. Tetap tidak ada jawaban. Dan nomor tersebut menelpon lebih dari 3x, sehingga kami semua sebal. Sampai2 ada usul supaya aku menjawab dengan ‘Telkomsel Veronica’. Tapi, nomornya Mi’un adalah IM3, dan ide konyol pun keluar, ganti saja jadi ‘Indosat Aurora’. Well, let’s try. Begitu nomor tersebut menghubungi lagi, dan aku berkata Halo… tapi tak ada jawaban, maka aku lanjutkan dengan “Indosat Aurora…”. Eng, ing, eng, tau2nya ada suara ‘Samuel-nya ada?’. Lagi di bawah tuh, ini siapa ya? ‘Ini mama-nya….’ G-U-B-R-A-K-S….

Semakin malam bukannya semakin sepi malah semakin ramai. Anak2 teater UI berlatih. Biasa lah, kalau anak teater berlatih, kegiatannya memang bukan hal yang lazim dilihat oleh orang yang tidak mengerti teater. Untungnya, gini2 aku mantan anak teater lho. Jadinya, segala pemanasan, gerakan2, dan proses latihan mereka bukanlah sesuatu yang aneh buatku. Latihan mereka yang sejak awal sudah serius, menjadi semakin serius begitu ada wartawan Insert yang meliput.


21 April 2006

Ya, selamat datang di tanggal 21 April 2006. Kebanyakan teman pulang ke rumah atau ke kos. Hanya beberapa saja yang tetap tinggal di Pusgiwa. Sebenarnya banyak yang harus dikerjakan pada waktu itu. Hanya saja semua terhambat akibat panggung yang tak kunjung jadi. Mi’un main gitar ngiringin Gadis nyanyi di tengah keheningan malam di Pusgiwa. Elga, Mia, n Dani sibuk memikirkan bagaimana pengaturan ruang untuk artis. Detik itu, aku tak ada kerjaan, lebih nyaman kalau pulang dan istirahat di kos. Tapi, masih ada urusan yang belum selesai di bawah. Stand bazaar belum beres. Awalnya aku ikut bantu2 di bawah. Tapi tidak bisa lama2, karena masih ada yang belum aku buat, juklak panggung Langgam. Lagipula sudah ada Echonxz, Patre, dan mas Farid yang membantu Kika di bawah. Dari jam tiga pagi, juklak baru selesai pukul enam pagi. Badan remuk rasanya. Untungnya ada Gadis yang sempat memijat, itu pun terinspirasi dari Eny dan Mi’un yang sedang pijat-memijat.

Belum sempat sarapan, sampai di kos aku hanya sempat print dan copy juklak, mandi, dan segera pergi ke kampus untuk kuliah ProbTer. Tas dan laptop kutitip di satpam, mengapa? Untuk mempermudah pergerakan. Begitu kupon dibagikan, aku segera melaju keluar kelas. Kebetulan, bertemu dengan Moja, Gita, n Sawi yang ternyata juga sudah mau ke Pusgiwa.

Yooo, meski masih sepi, acara harus segera dimulai. Sesuai rundown, acara dimulai pukul 10 pagi. Semua berjalan baik2 saja, sampai akhirnya hujan turun di saat salah satu band audisi baru menyanyikan dua dari lima lagu yang mereka persiapkan. Hujannya bukan hujan biasa, hujannya deras.

Tidak tau harus bagaimana, aku langsung lari ke panggung Khatulistiwa. Banyak yang perlu dibantu di sana. Alat2 gamelan, DJ set, grand piano, semuanya, harus dilindungi dari yang namanya air hujan. Plastik, koran, apa pun. Yang penting jangan sampai ada alat yang terkena hujan. Setelah yakin semua alat dalam keadaan aman, aku menuju ruang BEM. Tadinya aku mencari sarapan. Tapi aku hanya menemukan sebotol NU Green Tea. Hujan terus turun dan aku memilih untuk merebahkan badan di lantai ruang BEM. Ya, kata tidak sopannya adalah tidur2an (tidak bisa dikategorikan tidur beneran karena saya tidak ketiduran). Satu jam kemudian aku kirim SMS ke Mi’un yang intinya kalau sudah ada niatan untuk memulai panggung Khatulistiwa, jangan lupa bilang2. Eh, ternyata si Mi’un berjarak hanya sekitar satu meter dari ku dan aku tidak menyadari keberadaannya saking nguantuknya. “Ngapain lo SMS??” Cuma itu komentarnya.

Pukul 2 lewat, dan akhirnya hujan reda. Aku ganti pakaian dengan kaos panitia hari H, menyiapkan HT, dan turun untuk berdoa bersama panitia yang lain sebelum melanjutkan acara. Ya, sejak detik itulah semua begitu hectic. Panggung Langgam belum bisa dipakai lagi dan tidak ada keterangan apakah nantinya bisa dipakai atau tidak. Sebenernya ini bagian yang paling membuatku emosi. Sejak awal penanggung jawab panggung hanya berkata bahwa panggung Langgam belum bisa dipakai, belum bisa, belum bisa. Yang menurutku, artinya ada kemungkinan bahwa nanti panggung tersebut bisa dipakai. Setelah mengulur waktu sekian lama, tiba2 dinyatakan kalau panggung Langgam totally gak bisa dipake. DAMN!

Akibatnya, semua rangkaian acara yang seharusnya tampil di panggung Langgam harus dipindah ke panggung Khatulistiwa. Kiamat terjadi. Ya, kiamat di sini bukan kiamat yang sesungguhnya. Tapi kiamat di sini adalah istilah yang saya sebut sejak seminggu sebelum 21 April 2006, yaitu suatu keadaan kacau yang akan terjadi apabila acara berjalan hanya dengan satu panggung. Sesuatu yang mustahil. Mustahil acara dapat berjalan dengan baik kalau digabung di satu panggung. Hasilnya? See? Beberapa tidak jadi tampil dan penampilan yang ada tidak maksimal karena pembatasan waktu.

Sampai dengan break Maghrib aku tidak bisa tenang. Mendaki gunung turuni lembah yang ada di samping panggung Khatulistiwa supaya bisa mengendalikan panggung dari depan ataupun dari backstage. Seumur-umur berurusan dengan kegiatan, baru kali ini aku mengalami yang namanya rundown bisa berubah setiap menit. Bahkan ketika satu penampilan sedang di atas panggung, tidak ada kepastian siapa yang akan tampil berikutnya. Suaraku hampir habis berteriak-teriak di HT. Dan telingaku pun pengang mendengar teriakan2 di HT.

..
..
“LKF habisin dulu, baru Pargit sama Liga Tari…”
“FKM harus tampil sekarang, kalau engga, mereka gak tampil, ujian..”
“mana nih gitar sama bas buat Fasilkom?”
“White Shoes harus sekarang, kalo engga, mereka gak tampil”
“jingle Trax dah diputer pa belom?”
“profil juri! Profil juri! Kok gak dibacain sih?”
“mundurin penontonnya, kita mau pasang spanduk NU”
“gak mungkin liga tari nari di atas panggung, gak muat”
“sapa nih yang tampil berikutnya?”
“d’north, d’north tampil kapan? Jadi tampil gak?”
“Nunung CS sama Prof Band gimana?”
..
..
Arghghhghghhhhhhhh…. Aku sampai lupa kalau aku tidak tidur semalaman dan sudah sore tapi aku belum sarapan?? Untungnya ada Kak Reza yang baik hati yang mau mencarikan aku kue di sore itu. Makasih Kak, setidaknya terasa lebih baik begitu ada dua potong donat yang mengganjal perut.

“Sam, setelah Maghrib, gw gak mau rundown berubah-ubah kayak tadi. Susun skarang!”. Ya, rundown untuk malam hari pun siap. Tapi, memang tidak ada yang mudah. Ada saja kelalaian. Tidak terkontrolnya sebuah band yang seharusnya hanya membawakan dua lagu eh bablas sampe empat lagu, ada band yang mengancam tidak tampil kalo tidak pada waktu yang dia minta padahal itu adalah jatah waktu tim lain, dan berbagai kepelikan lainnya, termasuk hal2 seperti harus mencari DVD player supaya flash renungan Indonesia dan flash2 lainnya bisa ditampilkan di layar.

Sejak Maghrib aku tidak perlu lagi mendaki gunung lewati lembah seperti di sore hari. Aku bisa duduk di panggung mixer, menikmati semua pertunjukkan seakan-akan duduk di tempat VIP sambil menikmati hot-dog sebagai makan malam yang sebenarnya disediakan untuk makan siang panitia. Penampilan Viky Sianipar yang memukau, kolaborasi DJ n gamelan yang seru (ada pemain perkusi yang di Ceriwis itu lho, sapa namanya? Mas Roni apa Soni ya?), Jamaica Café yang menurutku pualing mantab pualing keren, VinFan yang ngebawain lagu2 asyik, Samsons yang ditunggu-tunggu fans, Balawan yang kunantikan sejak aku menjadi penonton JGTC dua tahun lalu, last but not least Tompi yang semangat banget meskipun baru tampil di atas jam dua belas malam.

Tadinya aku sendirian di tempat mixer, tau2 datanglah si Otonx menemani sambil menikmati tempat VIP itu. Aku lupa, apakah di tengah2 saat Samsons tampil atau saat Balawan baru mau mulai tampil, tambah lagi satu penghuni bangku VIP, si Mi’un. Entah apa yang terjadi dengannya, nampaknya hilang nafsu hidup. Diajak ngomong, gak jelas reaksinya. Dibiarin aja, eh malah tidur2 gak jelas di deket mixer yang sejujurnya cukup mengganggu pak mixer. Sayangnya saat itu aku belum tau persis apa yang terjadi di backstage yang membuat koor ku itu stress dan bahkan hampir nangis darah sebelum menuju tempat mixer. Jadinya, aku masih saja mengeluarkan pernyataan2 yang mungkin bahkan membuatnya jadi lebih stress, seperti “Siapa sih yang nyaranin supaya Tompi yang tampil di MusKhat? Rencana kita kan Glenn, kok jadi Tompi…”. Dan dengan lirih dia menjawab “gw…”. Bagusnya, mood-nya cukup berubah ke arah lebih baik begitu melihat penampilan Balawan. Balawan Te-O-Pe dah..!!


22 April 2006

Tepat pukul dua belas malam. Aku tidak akan lupa bahwa hari sudah berganti menjadi tanggal 22 April 2006. Saatnya mengucapkan selamat ulang tahun yang ke 20 kepada saudara kembarku Regina Karlina.

Selama penampilan Tompi, yang lama buanget itu, aku kebelet pip… Lebih dari tiga kali aku harus bolak-balik dari tempat mixer ke toilet di lantai dua Pusgiwa. Huhhh… Acara berakhir, penonton pulang, sebagian beres2, dan aku harus mengantar Wem (salah satu MC) pulang pada pukul tiga dini hari. Bersama Nisa, aku ke Margonda mengantar Wem. Setibanya di Pusgiwa lagi, rombongan panitia berjalan bersama menuju KuTek. Dan aku tidak bisa bersama mereka karena dengan niat baik aku hendak menemani Nisa yang sedang menanti mobilnya yang sedang dipakai orang lain. Karena kelelahan, aku tertidur di atas meja di depan Pusgiwa, di tempat satpam biasa kongkow, sedangkan yang lain sedang membantu mengangkut NU. Hanya sekitar 15 menit aku tertidur, tapi begitu tersadar, ternyata Nisa sudah pergi ke hotel tempat Balawan menginap karena jam 10 pagi nantinya dia harus nyupir Balawan ke airport. Hu hu hu. Aku ketiduran di alam terbuka dan dibiarkan begitu saja..

Melanjutkan kantukku, aku naik ke aula Setyaningrum, bersama beberapa wanita lain, tidur di sana. Belum setengah jam aku tidur, datanglah Muslim menanyakan kunci mobilnya Ranta. Ternyata sudah jam setengah lima pagi. Dengan terkantuk-kantuk aku turun, mau memberikan kunci mobil. Eh, bukannya aku langsung pulang bersama Ranta, ternyata mobil masih mau dipinjem Delon untuk keperluan perlap. Jadilah kepulanganku tertunda. Aku memilih untuk masuk lagi ke Pusgiwa, dan yang kutemukan adalah Mi’un dan Betty yang sedang tidur nyenyak di atas kayu2 panggung MB yang ada di bawah tangga. Rasanya mereka sudah tidur begitu lama, dengan iseng kubangunkan mereka. Gak iseng2 banget sih, tapi karena memang ada yang perlu dibicarakan dengan mereka berdua. Dan di pagi itu, aku baru mengerti dengan jelas apa yang terjadi di backstage pada pukul sembilan malam kemarin.

Aku, Azar, dan Japra tiba di kamarku pukul 8 lewat. Kegiatan yang kami lakukan adalah tidur2an dilengkapi dengan membicarakan salah satu panitia yang keterlaluan kerjanya. Sengaja aku tidak tidur karena menunggu jam 11, mau memastikan bahwa acara hari H ditayangkan di Insert tanggal 22 April 2006. Seusai Insert, aku terkapar sampai pukul lima sore. Terbangun karena kelaparan dan sadar bahwa sudah dua hari perutku tak diisi nasi. Sedang menikmati makan sore, tau2 ada telpon, permintaan tolong dari Nisa dan Mi’un supaya aku ikut serta di rapat bersama Teater Sastra di gedung IX FIB jam 7 malam. Aku meng-iya-kan karena ada janji bahwa aku akan dijemput di KuTek.

Tau2nya, Nisa, Betty, dan Mi’un terjebak macet di daerah Pondok Indah. Dan kami tidak boleh terlambat tiba di FIB. Jadilah aku disuruh untuk pergi ke FIB duluan. Sendirian. Malam2. OMG. Untungnya ada Echonxz yang baik hati yang mau menemaniku. Rapat penuh sensor berakhir pukul sepuluh kurang. Rapat intern dilanjutkan di kos ku sampai jam dua belas malam lewat. Itu pun bisa selesai jam segitu karena rapat-nya di kos. Coba kalau memenuhi saran bang Azman untuk rapat di Pusgiwa, bisa2 selesai besok paginya.

Ya, itulah yang terjadi sebulan yang lalu. Memang kurang menarik ya kisahnya. Maklum, terlalu banyak yang harus disensor karena rahasia pribadi dan rahasia perusahaan. Tapi meski bagaimanapun, sebulan yang lalu tetaplah sesuatu yang aku rasakan, aku alami, dan terkenang di hati.

Devoted to all PELOPOR. Miss you, all!
posted by Ra! @ 19:23  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home